Mozaik Seni Budaya

Generasi muda yang ingin menambah wawasan seni budaya, dan musik, di sini tempatnya (Poltak Sinaga)

Rabu, 25 April 2012

Musik Keroncong Sudah Ompong


Oleh Poltak Sinaga


Musik keroncong adalah sejenis orkes dengan formasi alat-alat musik seperti, biola, flute, gitar melodi, ukulele (cuk), banyo, cello dan contrabas. Irama musiknya berupa permainan mono ritmik dari beberapa alat musik yang dijalin dengan kendangan secara improvisatif.  Sedang pada vokal (penyanyi), terdapat penggunaan cengkok yang fleksibel dengan teknik glisando.
Musik Keroncong berakar dari gaya akulturasi tradisional yang berkembang menjadi gendre populer.  Perkembangan jenis musik ini erat kaitannya dengan dunia maritim, percampuran etnis dan ras, masyarakat kalangan bawah.  Musik Keroncong di kenal di Indonesia pada Abad 16 sejalan dengan masuknya para pelaut Portugis.  Situasi ini terjadi di banyak tempat termasuk di semenanjung Malaka, Maluku, Batavia, India, Pantai-pantai  Afrika, dan lain-lain. Dalam kaitan ini yang terlibatpun bukan hanya orang-orang Portugis asli, akan tetapi juga orang-orang Portugis keturunan, India, Cina, Afrika, Eropa Barat, dan Melayu sehingga kadar musik keroncong itu merupakan sinkretisasi banyak unsur musikal.
Pada Abad 18 musik keroncong menjadi sangat populer di kampung-kampung dan daerah pelabuhan di kalangan masayarakat kosmopolit sebagai salah satu musik hiburan.  Kemudian di masa awal kemerdekaan film-film mulai memanfaatkan musik keroncong sebagai upaya unruk menarik perhatian masyarakat luas. Banyak para komposer (pencipta lagu) pada masa itu beralih ke jenis musik keroncong sebagai medium yang nasionalistik, dimana pada saat itu banyak orang yang menolak unsur asing, sehingga kedudukan bahasa Melayu yang dominan pada masyarakat urban menjadikan musik keroncong menjadi sangat merakyat sebagai budaya sendiri. Bahkan ketika Jepang berkuasa di Indonesia, musik keroncong aman-aman saja, ketika Jepang melarang peredaran musik populer asing. Pada hal di sisi lain peranan musik keroncong sangat dominan dalam menaikkan rasa nasionalisme pada masa itu.
Perkembangan berikutnya setelah tahun 1945,  terjadi banyak eksperimen yang melingkari musik keroncong yang melibatkan ekspansi ke musik populer lain, termasuk inkorporasi dengan ritem-ritem musik Latin. Dalam bisnis penjualan kaset rekaman musik yang muncul di akhir tahun 1960-an, musik keroncong menjadi salah satu genre pop yang penting dalam penjualan kaset. Popularitas musik keroncong juga masuk ke club-club hiburan malam di Singapura, Bangkok, Manila, dan Hongkong. Untuk Indonesia berkembang hibridasi keroncong dengan elemen regional  termasuk bahasa dan teknik musikal yang berasal dari karakter tradisi setempat.

Gaya dan Struktur Komposisi

Istilah keroncong sering dikaitkan dengan instrumen jenis ukulele atau cuk yang tercakup dalam fomasi ensambel. Keseluruhan ensambel terdiri dari instrumen kordofon Barat seperti, keroncong, gitar, biola, cello, flute dan perkusi ringan yang mengiringi vokal atau bermain secara instrumental. Perjalanan vokal kadangkala dengan karakter free rhytmic dipandu musik iringan yang dipatokkan pada medium tempo dengan ritem yang quadratis.  Biasanya gaya vokal dipengaruhi teknik bernyanyi bel canto yang mengandung vibrato, dengan loncatan-loncatan sentimental dan appogiatura. Dalam keroncong asli, instrumen musik petik yang biasanya mengusung progresi harmonik. Sementara biola dan flute mengimbuhnya dengan melodi improvisasi dan sesekali dengan heterofoni dengan jalur melodi vokal.  Kebanyakan lagu-lagu keroncong dibawakan dalam skala mayor dan minor dengan harmoi yang sederhana atau dengan akor-akor pokok, namun progresi harmoniknya sangat unik dan tidak terlalu menuruti ekspektasi aturan harmoni musik Barat.
Dalam kesederhanaan harmoninya, pada musik keroncong penggunaan alat musik dawai sebagai akompanyemen, gaya bernyanyi yang crooming terasa adanya tarik menarik antara gaya keroncong dengan musik fado dari Portugis.  Keterlibatan corak musik ini dengan hal-hal yang berbau maritim membuat kita memikirkan bahwa evolusi kedua genre ini mungkin ada interelasi.  Namun dalam perkembangannya mengalami perbedaan kontak lingkungan, kalau fado tetap dalam situasi yang semakin membarat, sementara keroncong pada masa perkembangannya banyak mengalami gamelanisasi.
Dari kenyataan-kenyataan di atas dapat diketahui bagaimana pentingnya dan panjangnya perjalanan perjalanan musik keroncong dalam khasanah musik Indonesia.  Namun kenyataannya sekarang musik keroncong nyaris tak terdengar lagi.  Penayangan jenis musik ini baik melalui siaran radio maupun televisi terasa sangat minim.  Fenomena ini mengisyaratkan bahwa musik keroncong telah mengalami krisis penggemar.  Kenyataannya hanya kaum tua yang masih gemar mendengar musik keroncong.  Akankah musik keroncong ini akan mati dan terkubur?
Kekhawatiran akan tragedi ini sebenarnya sudah dirasakan oleh para pemusik dan pencinta keroncong.  Hal ini ditandai dengan berdirinya organisasi HAMKRI (Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia).  Tetapi karena sesuatu dan lain hal organisasi ini seakan berjalan di tempat.  Kondisi ini menjadi sebuah kekhawatiran di tengah derasnya gelombang musik pop. Musik keroncong semakin tak berdaya dan ompong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar